Thursday, August 31, 2017

Garuda Laut Selatan Sang Pembunuh Naga Utara

Garuda Laut Selatan Sang Pembunuh Naga Utara

Bila berkaca pada kiprah negeri China, seolah kita diingatkan pada strategi perang ala Sun Tzu yaitu  Mengecoh Langit Menyeberangi Lautan (Man Tian Guo Hai)
Pemandangan yang sering dijumpai, tidaklah menarik perhatian. Rasa-rasanya seperti itulah saat ini keadaannya. Para bandit dan mafia sedang menancapkan kukunya di negeri ini. Tak satupun sektor yang tak terjamah, semua sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara telah mereka kuasai. Mereka berusaha menipu langit seolah-olah tiada kekuatan selain kekuatan mereka, bahkan lautan luaspun mereka seberangi dalam upaya penjajahan ini. Inilah strategi nomor satu yang telah mereka terapkan di Indonesia.

Kemudian mereka menerapkan strategi yang ketiga yakni  Membunuh dengan Pisau Pinjaman (Jie Dao Sha Ren)
Bila Anda ingin melakukan sesuatu, usahakan agar lawan anda melakukan untuk Anda. Orang-orang yang berbahaya bagi mereka dibuatkan sarana untuk membuat gerakan dengan cara yang keliru, mereka fasilitasi dan pada satu titik, tangkap dan bunuh dengan senjata mereka sendiri. Bukankah sudah banyak orang yang dikategorikan menyebarkan ujaran kebencian yang ditangkap dan dipenjarakan? Lihatlah kasus Ahok, dimana video itu sengaja disebarkan sendiri untuk memancing musuh melakukan gerakan, kemudian mereka fasilitasi lalu mereka tangkap dan penjarakan.

Strategi yang ketujuh yaitu Menciptakan Sesuatu dari Ketiadaan (Wu Zhong Sheng You). Hoax dengan segala macam berita-berita pelintiran dan bohong diciptakan. Ketika hoax yang diulang-ulang dan dipaksakan kedalam masyarakat, maka pelan namun pasti menjadi sebuah kebenaran. Masyarakat dibuat bingung mana yang benar mana yang salah, karena tiada media yang benar-benar kredibel, baik cetak maupun elektronik. Bukankah musuh yang mempercayai sebuah kebohongan bakal mudah ditaklukkan?

Strategi ke 17 yakni Membuat Batu Bata untuk Memikat Batu Giok. (Pao Zhuan Yin Yu). Hutangi mereka untuk membangun negaranya, tapi berikan bunga yang tak mungkin dapat dibayarnya, maka negaranya jadi milikmu. Bukankah iming-iming bantuan internasional ini begitu masif, menarik perhatian dan seolah-olah sebagai tanda persahabatan yang erat. Maka berbagai proyek mercusuar dengan dana melimpah ruah seolah jadi pemandangan sehari-hari, namun pelaksana dan pemakai dana tetaplah pemberi hutang dan dikerjakan keseluruhan oleh mereka. Sehingga ketika bangsa ini mau menerima pinjaman, maka kita telah memberi jalan bagi mereka untuk mengalahkan kita.

Strategi ke 20 adalah Menangkap Ikan di Air Keruh (Hun Shui Mo Yu). Zaman pergolakan menciptakan para pahlawan. Pada saat ini bisa dibilang suasana kacau balau, maka perlu diciptakan pahlawan-pahlawan baru untuk bangsa kita. Maka dimunculkanlah ustad abal-abal, pemimpin agama yang liberal, pengamat bayaran dan juga politisi busuk, yang bertindak bak pahlawan dan tentu saja diciptakan pula pendukung-pendukung semu dan palsu. Masyarakat yang tak mampu berpikir jernih akan mengekor kepada pahlawan jadi-jadian ini, sehingga setiap langkahnya adalah panutan.

Strategi ke 25 yaitu Menggantikan Balok dan Tiang dengan Kayu Lapuk (Tou Liang Huan Zhu) Mencari langit dan mengangkat sebuah matahari palsu. Artinya mereka memberikan kepada Indonesia sebuah resep untuk mengobati penyakit yang dideritanya,namun ternyata itu bukanlah obat melainkan racun pembunuh. Maka ketika masyarakat Indonesia euforia kebebasan dan merindukan sosok yang bersahaja, merakyat, maka dimunculkanlah pemimpin palsu yang sesuai dengan kehendak dan pikiran kita. Mimpi untuk menjadi bangsa besar dan sejahtera tetaplah menjadi mimpi, alih-alih stagnan, hancur pula akhirnya.

Strategi yang ke 35 yakni Ikat Jadi Satu Kapal-Kapal Perang Musuh (Lian Huan Ji). Bila dua ekor belalang berkutat pada seutas tali, tak satu pun akan mampu meloloskan diri. Inilah strategi terakhir yang sedang diterapkan oleh mereka saat ini, berupaya merangkul semua musuh-musuhnya kedalam bahteranya lalu mengikatnya dan pasti menurut mereka musuh tidak akan berdaya. Maka bila ini berhasil, maka habislah sudah nasib bangsa Indonesia, menjadi budak dinegerinya sendiri.

Tapi yang akan terjadi selanjutnya adalah strategi yang ke 36
yaitu Lari (Zou Wei Shang). Mereka lupa bahwa yang mereka serang dan jajah adalah satria-satria pilihan, bangsa ini adalah bangsa pejuang, dan sepanjang sejarah masa lalu, China adalah jajahan Nusantara. Maka ketika Garuda telah berdiri tegak dan mengepakkan sayapnya muncul dari Laut Selatan, Naga utara yang menyemburkan apinya takkan dapat bertahan lama. Strategi Sun Tzu ini memang ampuh hingga saat ini namun tidak akan bertahan lama, Kesatria telah dibangkitkan dari tidur panjangnya. Lihatlah tongkat komandonya, dengan empat bintang dipundaknya, serta burung garuda didadanya, dialah seorang Mahaguru yang turun dari pertapaannya untuk menghukum murid-muridnya yang telah sesat dan menyesatkan.

Saturday, June 10, 2017

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri.

Untuk melancarkan misi tempur ke Irak, Afghanistan, dan Suriah, militer AS memiliki pangkalan udara yang sangat besar di Al Udeid Air Base, Qatar.

Sebagai negara kecil di kawasan Teluk, Qatar yang merupakan negara terkaya di dunia memang butuh pasukan pengaman.

Apalagi penduduk Qatar hanya 2,7 juta dan semuanya hidup makmur.

Jarang ada yang mau jadi tentara sehingga banyak pekerjaan yang bersifat mempertahankan negara diisi oleh orang-orang bukan Qatar.

Pesawat-pesawat tempur Qatar yang jumlahnya ratusan sebagian besar di antaranya diterbangkan oleh pilot-pilot bayaran dan bukan warga negara Qatar.

Maka ketika militer AS meminta Qatar untuk digunakan sebagai pangkalan militernya, Qatar langsung menerima.

Pemerintah Qatar bahkan membantu membuatkan pangkalan udara AS, Al Udeid Air Base dengan mengucurkan dana sendiri sebesar 1 milliar dollar AS.

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Pangkalan udara AS di Al Udeid pun menjadi pangkalan militer terbesar AS di kawasan Teluk dengan jumlah personel mencapai 10.000 ribu orang.

Selain mendapat jaminan keamanan secara otomatis dari AS, Qatar juga mendapatkan pemasukan dari 10.000 personel militer AS yang membelanjakan uangnya di Qatar.

Puluhan ribu personel militer AS itu sama saja dengan kehadiran turis yang tidak perlu diundang.

Tapi seperti biasa, suatu negara yang bekerja sama dengan AS secara militer, lama-lama akan terpengaruh oleh sepak terjang AS jika tidak memiliki sikap tegas.

Ciri khas AS adalah politik bermuka dua dan standar ganda karena terbiasa memperlakukan kawan kadang sebagai lawan. Atau lawan diperlakukan sebagai kawan.

Itu bisa terjadi karena militer AS dan agen rahasia CIA memiliki strategi yang berbeda.

Pemerintah AS sedang gencar memerangi terorisme, tapi pada saat tertentu, CIA bisa menggunakan para teroris untuk menyerang targetnya.

Misalnya saja kelompok militan ISIS yang sedang diperangi, bisa saja ‘’dibayar’’ CIA untuk menyerang pasukan Rusia atau pasukan Suriah pro pemerintah.

Dana yang diperoleh oleh CIA bisa saja merupakan hasil penjualan senjata kepada Qatar, lalu digunakan untuk ‘’membayar jasa ISIS’’.

Apalagi Qatar telah membeli 36 jet tempur F-15 produk AS yang nilainya mencapai ratusan milliar dollar.

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Qatar bersama negara-negara Arab lainnya sebenarnya telah menandatangani kesepakatan untuk memerangi terorisme, khususnya kelompok ISIS dan al-Qaeda.

Jika Qatar sampai ‘’terpeleset’’ akibat ulah CIA dan secara tak sengaja justru telah mendukung terorisme, maka menjadi masuk akal jika negara-negara Arab yang kecewa, ramai-ramai memutuskan hubungan diplomatik.

Qatar sebenarnya masih kebingungan atas sikap negara-negara Arab itu.

Pasalnya Qatar merasa tidak melakukan pelanggaran tapi tiba-tiba langsung mendapatkan tindakan keras berupa pemutusan hubungan diplomatik dari negara-negara Arab.

Jika bisa memahami sepak terjang militer AS dan agen rahasia CIA, Qatar seharusnya bisa bersikap.

Dengan pemahaman itu , Qatar dimungkinkan tidak demikian mudah terseret oleh manuver-manuver ‘’licik’’ baik yang dilakukan militer AS maupun CIA.

Sumber: intisari news

Friday, June 9, 2017

Perseteruan Qatar-Saudi dan Kutukan “Assad Must Go”

Perseteruan Qatar-Saudi dan Kutukan “Assad Must Go”
Oleh: Dina Y. Sulaeman

Kemarin (5/6) dunia digemparkan oleh pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi terhadap Qatar. Namun sebenarnya, tanda-tanda dibuangnya Qatar dari persekutuan Teluk sudah muncul cukup lama. Indikasinya adalah sikap Qatar yang mulai berbaik-baik dengan Iran. Pada bulan April 2016, mantan perdana menteri sekaligus mantan menteri luar negeri Qatar, Syeikh Hamad bin Jassim al-Thani memuji-muji Iran dalam pidatonya. Dia juga menyarankan agar ‘negara-negara GCC sebaiknya menjalin kerjasama dengan Iran dan menyudahi kebijakan pasif mereka selama ini dalam berbagai krisis di Timteng, termasuk Suriah.’

Pihak Iran sendiri, sebelum Saudi secara resmi memutuskan hubungan dengan Qatar, sudah bicara soal ketegangan Qatar-Saudi. Jubir Kemlu Iran, Behram  Ghasemi, mengatakan sebabnya adalah “keberadaan pasukan asing”, yang merupakan faktor yang mengacaukan keamanan, persatuan dan saling pengertian antarnegara regional.

Yang dimaksud Ghasemi tentu saja, kehadiran para ‘mujahidin’ dari berbagai faksi di Suriah. Masing-masing faksi punya ‘boss’ masing-masing, dan kini para boss sedang berseteru untuk memperebutkan kekuasaan terbesar. Qatar, seperti sudah banyak diketahui, mendukung faksi Ikhwanul Muslimin (faksi ini punya beberapa ‘pasukan’ di lapangan, antara lain FSA dan Jaish al Islam). Namun rupanya setahun terakhir, Qatar juga mendanai Al Nusra (yang sudah dinyatakan sebagai organisasi teroris internasional). Awalnya Al Nusra dibentuk oleh petempur Al Qaida Irak, yang artinya, tidak seideologis dengan Ikhwanul Muslimin. Namun demi mendapatkan kucuran uang dari Qatar, setahun terakhir Al Nusra menyatakan berlepas diri dari Al Qaida.

Dinamika pertempuran di Suriah menjadi faktor penting dalam perseteruan antar para sponsor perang. Al Nusra (dan afiliasinya, mereka memiliki beberapa nama) rupanya sedang naik daun, sementara ISIS sedang terjepit. Selama ini AS, Saudi, Jordan, dan koalisinya mengaku memerangi ISIS, padahal sebenarnya mereka sedang memanfaatkan ISIS untuk menggulingkan Assad. Di antara buktinya, beberapa kali pasukan Suriah hampir mengalahkan ISIS, namun dihalangi pesawat tempur AS yang membombardir tentara Suriah. Lalu dalam email Hillary Clinton yang bocor, dia menyebut bahwa ISIS didanai oleh ‘government’ (pemerintah) Saudi (dan Qatar). Lalu, dalam berbagai kesempatan, tentara AS (yang mengaku sedang memerangi ISIS) justru memberikan jalan keluar bagi petempur ISIS di Suriah yang sudah terjepit.

Masih dari Jubir Kemlu Iran, Behram Ghasemi, “Arab Islamic American Summit” (KTT Riyadh) yang dihadiri Presiden AS dan pemimpin berbagai negara Muslim rupanya menjegal Qatar. “Sejauh pantauan kami melalui komunikasi-komunikasi dengan kalangan diplomat, banyak negara tidak mengetahui bahwa konferensi ini akan berujung pada deklarasi, belum lagi beberapa negara yang menentang kandungan deklarasi ini,” kata Ghasemi. (baca: Iran: Hubungan Saudi-Qatar Memburuk Akibat KTT Riyadh)

Cerita yang dituturkan pemimpin redaksi Ray al-Youm Abdel Bari Atwan dalam kolom editorialnya semakin memperjelas sikap Qatar terhadap Iran. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Qatar Syeikh Mohamed bin Abdulrahman al-Thani telah melakukan kunjungan mendadak ke Baghdad beberapa hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Riyadh, dan di situ dia mengadakan pertemuan dengan jenderal ternama Iran Qassem Soleimani. Soleimani disebut-sebut punya andil besar dalam membantu tentara Suriah mengusir para teroris dari negeri mereka. (baca: Qatar Blak-Blakan Dekati Iran)

Atwan juga menyebutkan bahwa ada perubahan diksi di berbagai media Qatar dalam menyebut pasukan pemerintah Suriah. Situs Aljazeera, misalnya, mulai menyebutnya “Pasukan Arab Suriah (SAA),” bukan “tentara rezim”. Aljazeera juga menayangkan pidato Sekjen Hizbullah yang sarat kecaman pedas terhadap KTT Arab-Amerika di Riyadh. Tak heran bila Saudi kini menutup kantor Aljazeera di Riyadh.

Lalu, pertanyaan terakhir, mengapa Qatar mendadak berbaik-baik dengan Iran? Pertama, mungkin karena pemimpin Qatar sudah kembali ke akal sehat (apalagi, mereka tetap mendukung perjuangan Hamas/Palestina). Tapi ini kurang pas dengan fakta bahwa mereka mendanai Al Nusra yang 11-12 dengan Al Qaida itu. Kedua, mungkin karena tidak ada pilihan lain, mereka sudah dijegal Saudi dkk (dan AS, yang sudah berencana memindahkan pangkalan militernya dari Qatar serta akan memberlakukan sanksi ekonomi). Mau tak mau, Qatar butuh ‘teman’. Pilihan satu-satunya adalah kubu Iran (+Rusia, China, Hizbullah, Suriah, Palestina). Namun tentu tak semudah itu Iran mau menerima Qatar, apalagi mereka masih mendanai afiliasi Al Qaida. Ketiga, jawaban idiosinkretik: begitulah para pemimpin Arab, tak pernah mampu berpikir rasional, tak pernah mampu melihat mana yang musuh, mana yang seharusnya dirangkul. Mereka dengan mudahnya diadu domba; detik ini berangkulan, besok saling jegal.

Ada prediksi bahwa Emir Qatar, Tamim bin Hammad al-Thani, akan dihabisi. Bila ini terjadi, kutukan “Assad must go” makan tumbal lagi. Sebagaimana diketahui, para pemimpin negara yang dulu secara serempak menyatakan ‘Assad harus pergi', kini sudah banyak yang tumbang atau lengser, antara lain Morsi, Sarkozy, Obama, Blair. Sementara, Assad yang sejak 6 tahun lalu mereka ganggu habis-habisan, saat ini mungkin sedang menonton TV, menyaksikan kekisruhan musuh-musuhnya, sambil makan popcorn. []

(Tulisan ini kemarin sudah dimuat di www.liputanislam.com)

BIANG KONFLIK TIMTENG

BIANG KONFLIK TIMTENG

Timteng selalu berkobar bukan krn watak manusianya, melainkan lebih krn watak alamnya yg kaya migas sehingga menjadi sumber utama energi dunia. Sumber daya alamnya membuat kawasan ini selalu diincar neo-imperialis Barat yg telah memasang Israel sbg agennnya. Hal ini kemudian diperparah oleh sensitivitasnya sbg tempat terbitnya agama-agama paling berpengaruh di dunia.

Masyarakatnya lantas terbelah menjadi dua kubu:

Pertama, kubu kompromistis yg rela memberi konsesi dan "pajak" kpd imperialis. Mereka semua adalah rezim-rezim kerajaan yg dulu tahtanya sengaja disukseskan oleh Inggris. Mereka selama ini hidup hanya utk tawar menawar dengan imperialis sehingga setidaknya diambil win-win solution, sama-sama kenyang. Barat sedapat mgkn membiarkan mrk kenyang dan bertahta agar tak melawan. Hanya krn tak mau melawan Israel, kubu ini disebut Barat sbg kubu moderat.

Barat sangat diuntungkan oleh sistem monarki yg mewarnai kubu ini, krn jika pemerintahannya demokratis maka Barat jelas akan berhadapan dgn rakyat  yg tidak mgkn akan berkompromi dgn Israel dan kekuatan-kekuatan imperialis pendukungnya.

Kedua, kubu anti kompromi. Kubu ini berteriak lantang bhw Israel harus musnah. Palestina adalah harga mati. Iran yg demokratis mewakili kubu ini sehingga Imam Khomaini menyebut Israel sbg kanker. Kanker harus musnah, krn tak mungkin manusia bisa hidup damai bersama kanker. Kubu inilah yg kini lazim disebut kubu resistensi (muqawamah).

Hanya krn melawan imperialisme, kubu ini dicap oleh Barat sbg kubu radikal, ekstrem,  teroris, dan disamakan dgn ISIS yg sebenarnya diciptakan oleh Barat sendiri utk menghabisi kubu resisten ini. Hanya karena berjuang melawan imperialisme kubu ini dianggap agresif doyan campur tangan.

Konflik yg terjadi selama ini tidak lepas dari pergesekan antara kubu muqawamah di satu pihak dan kubu imperialis dan kubu kompromistis di pihak lain. Hanya ini.(moh. Musa temen fb)

Thursday, June 8, 2017

Qatar, Signal Perang Peradaban tlah tiba

Qatar, Signal Perang Peradaban tlah tiba

Inilah periode zaman ke IV sesuai sabda Rosul, umat Islam diserbu dari berbagai penjuru.

Pasca kunjungan Donald Trump ke kawasan arab, beberapa hari kemudian seakan terkoordinasi dengan baik, beberapa negara memutuskan hub diplomatik yaitu Arab Saudi, Mesir, Uni emirat arab dan Bahrain.

Alasan yg tdk masuk akal dengan klaim2 dan dugaan2 bahwa Doha telah memberikan dukungan terhadap teroris. Dan semua itu telah ditepis oleh kementrian luar negeri  Qatar  bahwa klaim tsb tdklah benar.

Sejak dari awal sy berfikir bahwa itu hanyalah bikin-bikinan Pihak yg telah membuat skenario dalam rangka Devide et Impera untuk memenangkan PERANG PERADABAN seperti di-prophecy-kan Samuel Huntington seperempat abad yang lalu: The West vs Islam.

Qatar adalah negeri yang makmur.

Pemerintah mensubsidi rakyatnya dengan sangat istimewa. Selain kelahiran, perkawinan, perumahan, pekerjaaan untuk hidup sehari-hari, yang paling utama ialah subsidi Pemerintah Qatar dalam bidang Pendidikan!

Pendidikan adalah gerbang Ilmu Pengetahuan.
Mendidik manusia supaya jadi cerdas dan pintar, dan menjadi pesaing potensial dalam PEREBUTAN PERADABAN di masa depan!

Skenario PERANG PERADABANpun mulai diputar dan disesuaikan:

Qatar harus dihancurkan!

Seperti setiap sandiwara, peran dan fungsi setiap aktor diatur dan ditentukan oleh Sang Sutradara disesuaikan dengan cerita yang disusun. Yang paling penting untuk dicermati, ke lima "aktor" yang dimainkan di atas panggung ini adalah 'ISLAM" semua.

Bukan The West.
Itu yang paling penting.

Nah, dalam skenario PERANG PERADABAN yang sedang berjalan ini akankah Para Aktor segera siuman dari kehidupan proxy mereka ataukah semakin larut dalam peran (aktor) masing-masing yang mereka mainkan? Yang 'tol'nya adalah kehancuran bagi semua.

Menang jadi arang, kalah jadi abu!
Tiji Tibeh mati siji mati kabeh

Pertanyaannya kemudian adalah, dimna Indonesia akan mengambil posisi?

Kita lihat bangunan2 megah dibawah ini tinggal menunggu hitungan hari, minggu atau bulan

By: Mbah Liem

Thursday, May 11, 2017

UMAT ISLAM JANGAN TERPANCING.... TUNGGU KOMANDO. ~KONFLIK DIRANCANG UNTUK SEKARANG~

UMAT ISLAM JANGAN TERPANCING.... TUNGGU KOMANDO.
~KONFLIK DIRANCANG UNTUK SEKARANG~
.
oleh Fahmi M.S Kartari
.
Ini situasi gila sebetulnya! Bebas atau tidak bebasnya ahok, pasca 9 Mei itu menjadi masa yang harus bergolak, begitu kelihatannya! Tp menurut saya pergolakkannya dipicu hanya dalam jangka waktu tertentu, tidak akan lama! Artinya jika ahok bebas, reaksi Umat Islam akan langsung dibenturkan dengan pihak-pihak yang dibentuk oleh aparat, bisa antar ormas, preman atau dengan aparat itu sendiri. Tp rencana itu tdk jadi terlaksana, ahok ternyata divonis 2 tahun. Lalu reaksi massa ahokers yang berlanjut hingga hari ini, rekayasa pemindahan tahanan ke brimob, rencana penangguhan tahanan, rencana banding, isu reaksi PBB, Uni Eropa, dan pemerintah Belanda hingga kemungkinan Mendagri tetap menjadikan ahok sebagai gubernur jika ada penangguhan tahanan, ini adalah satu rancangan situasi konflik dalam pola yang sama dengan keharusan ahok-djarot menang satu putaran (terbukti ketika putaran kedua mereka hancur), waktu yg harus singkat, dan harus diburu-buru, sebab bgmn caranya biaya pemicu konflik ini bisa efisien tapi akibatnya bisa besar. Sasarannya? Reaksi Umat Islam untuk secara emosional ke dalam perangkap konflik (horisontal dan vertikal).
.
Kesal kan jika hukum mulai dipermainkan supaya ahok bisa enak meski status tahanan? Sakit hati sekali melihat perlakuan istimewa kepolisian pada demonstran ahokers dibanding ke Umat Islam? Marah kan melihat dengan kasat mata Presiden mencari cara agar meski tahanan tp ahok bisa "bebas"? Pasti banyak Umat yang ingin melakukan reaksi keras, ingin aksi lagi, ingin lempar jumroh, ingin lengserkan jokowi, atau mungkin menghendaki ahok lebih buruk daripada ditahan!
.
Jangan masuk dulu dalam perangkap jaring raksasa, karena jika Umat Islam masuk perangkap tersebut maka akan sekali hajar! Memang Umat Islam akan melakukan perlawanan tapi akibatnya apa? Sepertinya inilah timing bagi kekacauan Nasional yg dirancang kekuatan besar dalam negeri atau skala dunia!
.
Biarkan pancingan-pancingan emosional itu tetap disikapi pasif oleh Umat Islam, terlebih belum adanya komando. Selama ini kubu2 penguasa dan aparat itu frustrasi untuk memancing Umat Islam. Ya frustrasi karena memang ada yang dituju!
.
Bertahanlah sampai ada kepastian komando, jangan terpancing himbauan liar untuk bertempur, jangan terpancing berita chaos meskipun sudah faktual!
.
Saya yakin Allah sedang mengatur segalanya untuk keselamatan negeri ini!
.
Kita lihat dan kita tunggu!

Meski Dikelilingi Pengawal Bersenjata, Aksi Jokowi Kendarai Trail di Papua Tetap Mengundang Bahaya .

Meski Dikelilingi Pengawal Bersenjata, Aksi Jokowi Kendarai Trail di Papua Tetap Mengundang Bahaya
.
May 10, 2017
.
PAPUA -- Tidak ada seorang Presiden di dunia ini yang memiliki tingkah aneh-aneh seperti Presiden Indonesia Joko Widodo.

Salah satu keanehan sepak terjang Jokowi adalah kenekatannya untuk menginspeksi pelaksanaan pembangunan jalan raya Trans Papua di Wamena, Jaya Wijaya, Papua, menggunakan motor trail.

Sebenarnya setiap kunjungan Presiden ke daerah manapun aparat keamanan setingkat Kodam dan Polda telah menyiapkan penjagaan maksimal.
.
Bisa dikatakan dalam kondisi siaga satu.
.
Tak hanya Kodam dan Polda yang bersiaga demi menjaga keselamatan Presiden, TNI AL juga menyiagakan sejumlah kapal perangnya di perairan terdekat plus dilengkapi helikopter penyelamat.

Kekuatan TNI AU yang berada di Papua juga dalam kondisi siaga satu mulai dari menyiapkan jet-jet tempur dan helikopter.

Pada prinsipnya sistem keamanan untuk menjaga presiden ada tiga lapis. Yakni ring luar, ring tengah, dan ring dalam.

Penjagaan di ring dalam merupakan pengamanan melekat para diri Presiden Jokowi yang dilaksanakan oleh Paspampres.

Dalam kepemimpinan Presiden Jokowi telah terjadi perubahan doktrin pengamanan.

Paspampres harus mematuhi keinginan Jokowi yang sedang diamankan.

Bukan Jokowi yang mematuhi prosedur pengamanan yang sudah menjadi standar Paspampres.

Maka dalam setiap tugas mengawal Jokowi, pasukan Paspampres selalu senam jantung karena Jokowi sering melakukan impovisasi tak terduga.

Misalnya berhenti mendadak di suatu tempat untuk belanja atau sekadar menyalami warga masyarakat.

Improvisasi Jokowi itu harus bisa diamankan oleh Paspampres secara tepat dan terukur.

Karena Jokowi melarang Paspampres bertindak secara berlebihan saat mengawal dirinya.

Improvisasi yang sering dilakukan Jokowi sebenarnya tidak berisiko tinggi jika berlangsung di kawasan yang aman.

Tapi jika dilakukan di daerah rawan, seperti di Papua, improvisasi yang dilakukan Jokowi dengan mengendarai motor trail di medan terbuka sangat  berisiko tinggi.

Pasalnya di Papua masih ada kelompok sipil bersenjata, Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang kerap melakukan serangan bersenjata kepada para pekerja pembangun jalan Trans Papua.

Memang bisa dipastikan aparat keamanan telah terlebih dahulu menyeterilkan kawasan yang akan digunakan kegiatan oleh Jokowi.

Para sniper pun sudah ditempatkan oleh aparat keamanan untuk mengamankan area ring satu.

Namun apa yang dilakukan  Jokowi sebagai Presiden RI saat melakukan inspeksi jalan seraya naik motor trail dan berada di medan terbuka tak akan dilakukan oleh Presiden manapun di dunia ini.

Selain rawan kecelakaan juga sulit dilakukan prosedur pengamanan standarnya.

Jadi aksi Jokowi naik trail di Wamena meskipun dikelilingi para pengawal bersenjata sesungguhnya sedang menantang bahaya.
.
http://wow.tribunnews.com/amp/2017/05/10/meski-dikelilingi-pengawal-bersenjata-aksi-jokowi-kendarai-trail-di-papua-tetap-mengundang-bahaya