Thursday, August 31, 2017

Garuda Laut Selatan Sang Pembunuh Naga Utara

Garuda Laut Selatan Sang Pembunuh Naga Utara

Bila berkaca pada kiprah negeri China, seolah kita diingatkan pada strategi perang ala Sun Tzu yaitu  Mengecoh Langit Menyeberangi Lautan (Man Tian Guo Hai)
Pemandangan yang sering dijumpai, tidaklah menarik perhatian. Rasa-rasanya seperti itulah saat ini keadaannya. Para bandit dan mafia sedang menancapkan kukunya di negeri ini. Tak satupun sektor yang tak terjamah, semua sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara telah mereka kuasai. Mereka berusaha menipu langit seolah-olah tiada kekuatan selain kekuatan mereka, bahkan lautan luaspun mereka seberangi dalam upaya penjajahan ini. Inilah strategi nomor satu yang telah mereka terapkan di Indonesia.

Kemudian mereka menerapkan strategi yang ketiga yakni  Membunuh dengan Pisau Pinjaman (Jie Dao Sha Ren)
Bila Anda ingin melakukan sesuatu, usahakan agar lawan anda melakukan untuk Anda. Orang-orang yang berbahaya bagi mereka dibuatkan sarana untuk membuat gerakan dengan cara yang keliru, mereka fasilitasi dan pada satu titik, tangkap dan bunuh dengan senjata mereka sendiri. Bukankah sudah banyak orang yang dikategorikan menyebarkan ujaran kebencian yang ditangkap dan dipenjarakan? Lihatlah kasus Ahok, dimana video itu sengaja disebarkan sendiri untuk memancing musuh melakukan gerakan, kemudian mereka fasilitasi lalu mereka tangkap dan penjarakan.

Strategi yang ketujuh yaitu Menciptakan Sesuatu dari Ketiadaan (Wu Zhong Sheng You). Hoax dengan segala macam berita-berita pelintiran dan bohong diciptakan. Ketika hoax yang diulang-ulang dan dipaksakan kedalam masyarakat, maka pelan namun pasti menjadi sebuah kebenaran. Masyarakat dibuat bingung mana yang benar mana yang salah, karena tiada media yang benar-benar kredibel, baik cetak maupun elektronik. Bukankah musuh yang mempercayai sebuah kebohongan bakal mudah ditaklukkan?

Strategi ke 17 yakni Membuat Batu Bata untuk Memikat Batu Giok. (Pao Zhuan Yin Yu). Hutangi mereka untuk membangun negaranya, tapi berikan bunga yang tak mungkin dapat dibayarnya, maka negaranya jadi milikmu. Bukankah iming-iming bantuan internasional ini begitu masif, menarik perhatian dan seolah-olah sebagai tanda persahabatan yang erat. Maka berbagai proyek mercusuar dengan dana melimpah ruah seolah jadi pemandangan sehari-hari, namun pelaksana dan pemakai dana tetaplah pemberi hutang dan dikerjakan keseluruhan oleh mereka. Sehingga ketika bangsa ini mau menerima pinjaman, maka kita telah memberi jalan bagi mereka untuk mengalahkan kita.

Strategi ke 20 adalah Menangkap Ikan di Air Keruh (Hun Shui Mo Yu). Zaman pergolakan menciptakan para pahlawan. Pada saat ini bisa dibilang suasana kacau balau, maka perlu diciptakan pahlawan-pahlawan baru untuk bangsa kita. Maka dimunculkanlah ustad abal-abal, pemimpin agama yang liberal, pengamat bayaran dan juga politisi busuk, yang bertindak bak pahlawan dan tentu saja diciptakan pula pendukung-pendukung semu dan palsu. Masyarakat yang tak mampu berpikir jernih akan mengekor kepada pahlawan jadi-jadian ini, sehingga setiap langkahnya adalah panutan.

Strategi ke 25 yaitu Menggantikan Balok dan Tiang dengan Kayu Lapuk (Tou Liang Huan Zhu) Mencari langit dan mengangkat sebuah matahari palsu. Artinya mereka memberikan kepada Indonesia sebuah resep untuk mengobati penyakit yang dideritanya,namun ternyata itu bukanlah obat melainkan racun pembunuh. Maka ketika masyarakat Indonesia euforia kebebasan dan merindukan sosok yang bersahaja, merakyat, maka dimunculkanlah pemimpin palsu yang sesuai dengan kehendak dan pikiran kita. Mimpi untuk menjadi bangsa besar dan sejahtera tetaplah menjadi mimpi, alih-alih stagnan, hancur pula akhirnya.

Strategi yang ke 35 yakni Ikat Jadi Satu Kapal-Kapal Perang Musuh (Lian Huan Ji). Bila dua ekor belalang berkutat pada seutas tali, tak satu pun akan mampu meloloskan diri. Inilah strategi terakhir yang sedang diterapkan oleh mereka saat ini, berupaya merangkul semua musuh-musuhnya kedalam bahteranya lalu mengikatnya dan pasti menurut mereka musuh tidak akan berdaya. Maka bila ini berhasil, maka habislah sudah nasib bangsa Indonesia, menjadi budak dinegerinya sendiri.

Tapi yang akan terjadi selanjutnya adalah strategi yang ke 36
yaitu Lari (Zou Wei Shang). Mereka lupa bahwa yang mereka serang dan jajah adalah satria-satria pilihan, bangsa ini adalah bangsa pejuang, dan sepanjang sejarah masa lalu, China adalah jajahan Nusantara. Maka ketika Garuda telah berdiri tegak dan mengepakkan sayapnya muncul dari Laut Selatan, Naga utara yang menyemburkan apinya takkan dapat bertahan lama. Strategi Sun Tzu ini memang ampuh hingga saat ini namun tidak akan bertahan lama, Kesatria telah dibangkitkan dari tidur panjangnya. Lihatlah tongkat komandonya, dengan empat bintang dipundaknya, serta burung garuda didadanya, dialah seorang Mahaguru yang turun dari pertapaannya untuk menghukum murid-muridnya yang telah sesat dan menyesatkan.

No comments:

Post a Comment