Saturday, June 10, 2017

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri.

Untuk melancarkan misi tempur ke Irak, Afghanistan, dan Suriah, militer AS memiliki pangkalan udara yang sangat besar di Al Udeid Air Base, Qatar.

Sebagai negara kecil di kawasan Teluk, Qatar yang merupakan negara terkaya di dunia memang butuh pasukan pengaman.

Apalagi penduduk Qatar hanya 2,7 juta dan semuanya hidup makmur.

Jarang ada yang mau jadi tentara sehingga banyak pekerjaan yang bersifat mempertahankan negara diisi oleh orang-orang bukan Qatar.

Pesawat-pesawat tempur Qatar yang jumlahnya ratusan sebagian besar di antaranya diterbangkan oleh pilot-pilot bayaran dan bukan warga negara Qatar.

Maka ketika militer AS meminta Qatar untuk digunakan sebagai pangkalan militernya, Qatar langsung menerima.

Pemerintah Qatar bahkan membantu membuatkan pangkalan udara AS, Al Udeid Air Base dengan mengucurkan dana sendiri sebesar 1 milliar dollar AS.

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Pangkalan udara AS di Al Udeid pun menjadi pangkalan militer terbesar AS di kawasan Teluk dengan jumlah personel mencapai 10.000 ribu orang.

Selain mendapat jaminan keamanan secara otomatis dari AS, Qatar juga mendapatkan pemasukan dari 10.000 personel militer AS yang membelanjakan uangnya di Qatar.

Puluhan ribu personel militer AS itu sama saja dengan kehadiran turis yang tidak perlu diundang.

Tapi seperti biasa, suatu negara yang bekerja sama dengan AS secara militer, lama-lama akan terpengaruh oleh sepak terjang AS jika tidak memiliki sikap tegas.

Ciri khas AS adalah politik bermuka dua dan standar ganda karena terbiasa memperlakukan kawan kadang sebagai lawan. Atau lawan diperlakukan sebagai kawan.

Itu bisa terjadi karena militer AS dan agen rahasia CIA memiliki strategi yang berbeda.

Pemerintah AS sedang gencar memerangi terorisme, tapi pada saat tertentu, CIA bisa menggunakan para teroris untuk menyerang targetnya.

Misalnya saja kelompok militan ISIS yang sedang diperangi, bisa saja ‘’dibayar’’ CIA untuk menyerang pasukan Rusia atau pasukan Suriah pro pemerintah.

Dana yang diperoleh oleh CIA bisa saja merupakan hasil penjualan senjata kepada Qatar, lalu digunakan untuk ‘’membayar jasa ISIS’’.

Apalagi Qatar telah membeli 36 jet tempur F-15 produk AS yang nilainya mencapai ratusan milliar dollar.

Memilih AS yang Bermuka Dua Sebagai Salah Satu ‘Pelindung’, Qatar Justru Bahayakan Diri

Qatar bersama negara-negara Arab lainnya sebenarnya telah menandatangani kesepakatan untuk memerangi terorisme, khususnya kelompok ISIS dan al-Qaeda.

Jika Qatar sampai ‘’terpeleset’’ akibat ulah CIA dan secara tak sengaja justru telah mendukung terorisme, maka menjadi masuk akal jika negara-negara Arab yang kecewa, ramai-ramai memutuskan hubungan diplomatik.

Qatar sebenarnya masih kebingungan atas sikap negara-negara Arab itu.

Pasalnya Qatar merasa tidak melakukan pelanggaran tapi tiba-tiba langsung mendapatkan tindakan keras berupa pemutusan hubungan diplomatik dari negara-negara Arab.

Jika bisa memahami sepak terjang militer AS dan agen rahasia CIA, Qatar seharusnya bisa bersikap.

Dengan pemahaman itu , Qatar dimungkinkan tidak demikian mudah terseret oleh manuver-manuver ‘’licik’’ baik yang dilakukan militer AS maupun CIA.

Sumber: intisari news

Friday, June 9, 2017

Perseteruan Qatar-Saudi dan Kutukan “Assad Must Go”

Perseteruan Qatar-Saudi dan Kutukan “Assad Must Go”
Oleh: Dina Y. Sulaeman

Kemarin (5/6) dunia digemparkan oleh pemutusan hubungan diplomatik Arab Saudi terhadap Qatar. Namun sebenarnya, tanda-tanda dibuangnya Qatar dari persekutuan Teluk sudah muncul cukup lama. Indikasinya adalah sikap Qatar yang mulai berbaik-baik dengan Iran. Pada bulan April 2016, mantan perdana menteri sekaligus mantan menteri luar negeri Qatar, Syeikh Hamad bin Jassim al-Thani memuji-muji Iran dalam pidatonya. Dia juga menyarankan agar ‘negara-negara GCC sebaiknya menjalin kerjasama dengan Iran dan menyudahi kebijakan pasif mereka selama ini dalam berbagai krisis di Timteng, termasuk Suriah.’

Pihak Iran sendiri, sebelum Saudi secara resmi memutuskan hubungan dengan Qatar, sudah bicara soal ketegangan Qatar-Saudi. Jubir Kemlu Iran, Behram  Ghasemi, mengatakan sebabnya adalah “keberadaan pasukan asing”, yang merupakan faktor yang mengacaukan keamanan, persatuan dan saling pengertian antarnegara regional.

Yang dimaksud Ghasemi tentu saja, kehadiran para ‘mujahidin’ dari berbagai faksi di Suriah. Masing-masing faksi punya ‘boss’ masing-masing, dan kini para boss sedang berseteru untuk memperebutkan kekuasaan terbesar. Qatar, seperti sudah banyak diketahui, mendukung faksi Ikhwanul Muslimin (faksi ini punya beberapa ‘pasukan’ di lapangan, antara lain FSA dan Jaish al Islam). Namun rupanya setahun terakhir, Qatar juga mendanai Al Nusra (yang sudah dinyatakan sebagai organisasi teroris internasional). Awalnya Al Nusra dibentuk oleh petempur Al Qaida Irak, yang artinya, tidak seideologis dengan Ikhwanul Muslimin. Namun demi mendapatkan kucuran uang dari Qatar, setahun terakhir Al Nusra menyatakan berlepas diri dari Al Qaida.

Dinamika pertempuran di Suriah menjadi faktor penting dalam perseteruan antar para sponsor perang. Al Nusra (dan afiliasinya, mereka memiliki beberapa nama) rupanya sedang naik daun, sementara ISIS sedang terjepit. Selama ini AS, Saudi, Jordan, dan koalisinya mengaku memerangi ISIS, padahal sebenarnya mereka sedang memanfaatkan ISIS untuk menggulingkan Assad. Di antara buktinya, beberapa kali pasukan Suriah hampir mengalahkan ISIS, namun dihalangi pesawat tempur AS yang membombardir tentara Suriah. Lalu dalam email Hillary Clinton yang bocor, dia menyebut bahwa ISIS didanai oleh ‘government’ (pemerintah) Saudi (dan Qatar). Lalu, dalam berbagai kesempatan, tentara AS (yang mengaku sedang memerangi ISIS) justru memberikan jalan keluar bagi petempur ISIS di Suriah yang sudah terjepit.

Masih dari Jubir Kemlu Iran, Behram Ghasemi, “Arab Islamic American Summit” (KTT Riyadh) yang dihadiri Presiden AS dan pemimpin berbagai negara Muslim rupanya menjegal Qatar. “Sejauh pantauan kami melalui komunikasi-komunikasi dengan kalangan diplomat, banyak negara tidak mengetahui bahwa konferensi ini akan berujung pada deklarasi, belum lagi beberapa negara yang menentang kandungan deklarasi ini,” kata Ghasemi. (baca: Iran: Hubungan Saudi-Qatar Memburuk Akibat KTT Riyadh)

Cerita yang dituturkan pemimpin redaksi Ray al-Youm Abdel Bari Atwan dalam kolom editorialnya semakin memperjelas sikap Qatar terhadap Iran. Menurutnya, Menteri Luar Negeri Qatar Syeikh Mohamed bin Abdulrahman al-Thani telah melakukan kunjungan mendadak ke Baghdad beberapa hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Riyadh, dan di situ dia mengadakan pertemuan dengan jenderal ternama Iran Qassem Soleimani. Soleimani disebut-sebut punya andil besar dalam membantu tentara Suriah mengusir para teroris dari negeri mereka. (baca: Qatar Blak-Blakan Dekati Iran)

Atwan juga menyebutkan bahwa ada perubahan diksi di berbagai media Qatar dalam menyebut pasukan pemerintah Suriah. Situs Aljazeera, misalnya, mulai menyebutnya “Pasukan Arab Suriah (SAA),” bukan “tentara rezim”. Aljazeera juga menayangkan pidato Sekjen Hizbullah yang sarat kecaman pedas terhadap KTT Arab-Amerika di Riyadh. Tak heran bila Saudi kini menutup kantor Aljazeera di Riyadh.

Lalu, pertanyaan terakhir, mengapa Qatar mendadak berbaik-baik dengan Iran? Pertama, mungkin karena pemimpin Qatar sudah kembali ke akal sehat (apalagi, mereka tetap mendukung perjuangan Hamas/Palestina). Tapi ini kurang pas dengan fakta bahwa mereka mendanai Al Nusra yang 11-12 dengan Al Qaida itu. Kedua, mungkin karena tidak ada pilihan lain, mereka sudah dijegal Saudi dkk (dan AS, yang sudah berencana memindahkan pangkalan militernya dari Qatar serta akan memberlakukan sanksi ekonomi). Mau tak mau, Qatar butuh ‘teman’. Pilihan satu-satunya adalah kubu Iran (+Rusia, China, Hizbullah, Suriah, Palestina). Namun tentu tak semudah itu Iran mau menerima Qatar, apalagi mereka masih mendanai afiliasi Al Qaida. Ketiga, jawaban idiosinkretik: begitulah para pemimpin Arab, tak pernah mampu berpikir rasional, tak pernah mampu melihat mana yang musuh, mana yang seharusnya dirangkul. Mereka dengan mudahnya diadu domba; detik ini berangkulan, besok saling jegal.

Ada prediksi bahwa Emir Qatar, Tamim bin Hammad al-Thani, akan dihabisi. Bila ini terjadi, kutukan “Assad must go” makan tumbal lagi. Sebagaimana diketahui, para pemimpin negara yang dulu secara serempak menyatakan ‘Assad harus pergi', kini sudah banyak yang tumbang atau lengser, antara lain Morsi, Sarkozy, Obama, Blair. Sementara, Assad yang sejak 6 tahun lalu mereka ganggu habis-habisan, saat ini mungkin sedang menonton TV, menyaksikan kekisruhan musuh-musuhnya, sambil makan popcorn. []

(Tulisan ini kemarin sudah dimuat di www.liputanislam.com)

BIANG KONFLIK TIMTENG

BIANG KONFLIK TIMTENG

Timteng selalu berkobar bukan krn watak manusianya, melainkan lebih krn watak alamnya yg kaya migas sehingga menjadi sumber utama energi dunia. Sumber daya alamnya membuat kawasan ini selalu diincar neo-imperialis Barat yg telah memasang Israel sbg agennnya. Hal ini kemudian diperparah oleh sensitivitasnya sbg tempat terbitnya agama-agama paling berpengaruh di dunia.

Masyarakatnya lantas terbelah menjadi dua kubu:

Pertama, kubu kompromistis yg rela memberi konsesi dan "pajak" kpd imperialis. Mereka semua adalah rezim-rezim kerajaan yg dulu tahtanya sengaja disukseskan oleh Inggris. Mereka selama ini hidup hanya utk tawar menawar dengan imperialis sehingga setidaknya diambil win-win solution, sama-sama kenyang. Barat sedapat mgkn membiarkan mrk kenyang dan bertahta agar tak melawan. Hanya krn tak mau melawan Israel, kubu ini disebut Barat sbg kubu moderat.

Barat sangat diuntungkan oleh sistem monarki yg mewarnai kubu ini, krn jika pemerintahannya demokratis maka Barat jelas akan berhadapan dgn rakyat  yg tidak mgkn akan berkompromi dgn Israel dan kekuatan-kekuatan imperialis pendukungnya.

Kedua, kubu anti kompromi. Kubu ini berteriak lantang bhw Israel harus musnah. Palestina adalah harga mati. Iran yg demokratis mewakili kubu ini sehingga Imam Khomaini menyebut Israel sbg kanker. Kanker harus musnah, krn tak mungkin manusia bisa hidup damai bersama kanker. Kubu inilah yg kini lazim disebut kubu resistensi (muqawamah).

Hanya krn melawan imperialisme, kubu ini dicap oleh Barat sbg kubu radikal, ekstrem,  teroris, dan disamakan dgn ISIS yg sebenarnya diciptakan oleh Barat sendiri utk menghabisi kubu resisten ini. Hanya karena berjuang melawan imperialisme kubu ini dianggap agresif doyan campur tangan.

Konflik yg terjadi selama ini tidak lepas dari pergesekan antara kubu muqawamah di satu pihak dan kubu imperialis dan kubu kompromistis di pihak lain. Hanya ini.(moh. Musa temen fb)

Thursday, June 8, 2017

Qatar, Signal Perang Peradaban tlah tiba

Qatar, Signal Perang Peradaban tlah tiba

Inilah periode zaman ke IV sesuai sabda Rosul, umat Islam diserbu dari berbagai penjuru.

Pasca kunjungan Donald Trump ke kawasan arab, beberapa hari kemudian seakan terkoordinasi dengan baik, beberapa negara memutuskan hub diplomatik yaitu Arab Saudi, Mesir, Uni emirat arab dan Bahrain.

Alasan yg tdk masuk akal dengan klaim2 dan dugaan2 bahwa Doha telah memberikan dukungan terhadap teroris. Dan semua itu telah ditepis oleh kementrian luar negeri  Qatar  bahwa klaim tsb tdklah benar.

Sejak dari awal sy berfikir bahwa itu hanyalah bikin-bikinan Pihak yg telah membuat skenario dalam rangka Devide et Impera untuk memenangkan PERANG PERADABAN seperti di-prophecy-kan Samuel Huntington seperempat abad yang lalu: The West vs Islam.

Qatar adalah negeri yang makmur.

Pemerintah mensubsidi rakyatnya dengan sangat istimewa. Selain kelahiran, perkawinan, perumahan, pekerjaaan untuk hidup sehari-hari, yang paling utama ialah subsidi Pemerintah Qatar dalam bidang Pendidikan!

Pendidikan adalah gerbang Ilmu Pengetahuan.
Mendidik manusia supaya jadi cerdas dan pintar, dan menjadi pesaing potensial dalam PEREBUTAN PERADABAN di masa depan!

Skenario PERANG PERADABANpun mulai diputar dan disesuaikan:

Qatar harus dihancurkan!

Seperti setiap sandiwara, peran dan fungsi setiap aktor diatur dan ditentukan oleh Sang Sutradara disesuaikan dengan cerita yang disusun. Yang paling penting untuk dicermati, ke lima "aktor" yang dimainkan di atas panggung ini adalah 'ISLAM" semua.

Bukan The West.
Itu yang paling penting.

Nah, dalam skenario PERANG PERADABAN yang sedang berjalan ini akankah Para Aktor segera siuman dari kehidupan proxy mereka ataukah semakin larut dalam peran (aktor) masing-masing yang mereka mainkan? Yang 'tol'nya adalah kehancuran bagi semua.

Menang jadi arang, kalah jadi abu!
Tiji Tibeh mati siji mati kabeh

Pertanyaannya kemudian adalah, dimna Indonesia akan mengambil posisi?

Kita lihat bangunan2 megah dibawah ini tinggal menunggu hitungan hari, minggu atau bulan

By: Mbah Liem